Loading...
Jelajahi berbagai berita menarik dari Sahabat Museum KAA.
-Sejak lama tak disebut Ruang kecil itu penuh kabut Tebaran kain rasa yang pernah kita rajut Selang waktu sebab pudar Rangkaian kata kejam merusak Tak sadarkah kau ruang itu penuh sesak? Dan kita beranjak lenyap Jejeran kalimat yang dulu digemari Kini hilang dan pergi berlari Kembali ke sudut yang biasa
Oleh Rae Ia tak ada habisnya Meski, sampai jiwa terenggut Kadang, hati terhampa memagut: “Ini tak ada hingga!” Di lain hari, sering berseri tanpa...
Oleh Syahrani Khoirunnisa Dalam syahdunya semesta aku memuncakkan emosi Kadang kala berdifusi dengan nestapa yang berdiam diri Aku merakit pilu pada aksara yang mengabu Bertanya, merenungi, perihal apa dan siapa yang kuresapi dalam aksara ini Aku memohon, meluruhkan sekujur tubuh Ia tak lagi istimewa pada setiap bait yang terjaga Bosan,
SMKAA-Ini adalah ihwal sebuah perjalanan Yang menghimpun banyak peristiwa dan kenangan Yang kian menua disapu zaman Yang hingga kini masih kuat menyokong kehidupan Inilah Jalan Braga, yang atensinya telah merajalela Sebuah jalan panjang yang memikat banyak atma Sang penakluk kisah di hati banyak manusia Sang pemberi ribuan memoar yang berharga
SMKAA-Semilir angin membawa pesan, Butir-butir hujan turun perlahan. Di bawah kanopi toko tua, kita berlindung, Mengharap badai tak ikut datang menghunjam. Daun-daun gugur kala senja merangkak, Dingin menyusup, pikiranku terasa berat. Aku ingin pulang, bisikku dengan suara gemetar, Tangis tertahan, nyaris pecah oleh dingin yang menyambar. Pelan-pelan lampu jalan mulai
SMKAA-Aku adalah penunggang badai Bersama kawan setia, membajak lautan lumpur Di atas pedati, aroma surgawi menyerbak Menyentuh angin yang berbisik lirih di sela-sela waktu Menghantar kisah-kisah yang belum usai diceritakan Aku melihat langkahmu bergema di jalan yang nyaris tanpa debu Dengan andesit, kau temui ruang baru Dengan kanvas, kau lukiskan
Dalam Sunyi sepi badai mengguncang Membawa kebaya dalam pelukanmu Meninggalkan sinyal sendiri Hati terbelah, darah berderai Ragu antara Tanah Leluhur dan darah biru Ku putuskan tuk bertahan Menghempas bisikan angin Berjuang melawan para inlander Yang mengidamkan kesetaraan Dan menganggapnya ada Aku memutuskan Menjalankan perintah tirani Tuk memperlihatkan perbedaan Bahwa aku
Malam gelap, rembulan merayap di sela jendelaKertas kegagalan ku genggam erat, membuat sesakKegagalan membuncah, air mata menemani kekosonganMimpi sirna, harapan hilang perlahanDulu, ada tangan menggenggamNamun kini hanya angin yang tergenggamAku ingin pulang ke rumahKe arah mana aku harus pulang?Rumah yang dulu hangat, kini terasa dinginTempat berbagi cerita telah bisuDalam kegelapan
Hentakan langkah tegasDengan leica sebagai senjataMerekam sejarah dalam bingkai cahayaMomen berharga terabadikanDi balik lensaPenguasa terbidik dalam kehangatanRombongan pun berseru bahagiaPerjuangan dulu kini berbuah manisNamun bingkai telah menghilangSebab aktor yang memutus ekorPita seluloid yang tersisa bagaikan PandoraBanyak kisah yang terpendamSemua sirna saat api padamMelebur bersama Pikiran Rakyat